Kartu Pos

6 comments
Oleh : Zoel Ardi


Jakarta, Juli 1996

            Aku berlari menyusuri gang-gang sempit itu. Almamater yang kukenakan sampai berkibar-kibar tertiup angin. Jalan becekpun tak kuhiraukan lagi, hingga sepatu taliku kotor terkena cipratan lumpur. Aku jadi teringat ketika kita dulu di kampung. Kita adalah dua sejoli yang tak pernah gentar oleh hujan. Sepulang sekolah, kita tetap melaju bersama meski harus menembus derasnya hujan. Terkadang, kita petik palapah pisang1 di depan sekolah sebagai pengganti payung. Meski kita tahu pada akhirnya tetap saja seragam putih abu-abu yang kita kenakan akan kelebas oleh air hujan.
            “Pas banget ya, Pak.” terengah-engah kuhampiri pria berseragam oranye itu. Hari ini adalah Jumat, hari yang paling kutunggu-tunggu. Sebab pada hari ini pak pos rutin mampir ke kosan untuk memberi kabar penting. “Ada kartu pos untuk aku nggak?”
            “Namanya siapa, Mas?” satu persatu ia periksa kartu pos yang dibawanya.
            “Hamdan.”